Kisah Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari dan Perjuangan Santri Melawan Sekutu Jadi Refleksi Kemerdekaan Masjid Baitussalam RT 03/RW 05, Kelurahan Cilodong • Depok, Jawa Barat DITERBITKAN: Cilodong, Depok | LOKASI: Masjid Baitussalam RT 03/RW 05, Kelurahan Cilodong | NARASUMBER: KH. Lukman Nursalim (Penceramah)
DEPOK — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitussalam, RT 03/RW 05, Kelurahan Cilodong, Kota Depok, pada malam Ahad, 16 Agustus 2026. Warga setempat menggelar acara tasyakuran dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, dengan menghadirkan KH. Lukman Nursalim sebagai penceramah untuk memberikan tausiyah dan renungan kebangsaan kepada jamaah yang hadir.
Mengawali tausiyahnya, KH. Lukman Nursalim menyinggung pentingnya adab dalam berbicara sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim. Beliau menguraikan empat rukun atau adab berbicara yang wajib diperhatikan, yaitu: ucapan harus jelas, ucapan harus dapat dipahami oleh lawan bicara, ucapan tidak berputar-putar, serta ucapan tidak berlama-lama atau bertele-tele. Menurut beliau, keempat prinsip ini penting diterapkan agar komunikasi berjalan efektif sekaligus menjadi bentuk kehati-hatian dalam menjaga lisan. Memasuki inti tausiyah bertema kebangsaan, KH. Lukman Nursalim mengajak jamaah mengenang kembali perjuangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, melalui semboyan yang begitu masyhur di kalangan santri: Hubbul Wathon Minal Iman — cinta tanah air adalah sebagian dari iman.
Beliau menjelaskan bahwa semangat inilah yang menjadi landasan spiritual para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan kembali pasca-proklamasi. KH. Lukman Nursalim turut mengisahkan bagaimana para santri, yang tergabung dalam laskar-laskar seperti Hizbullah dan Sabilillah, ikut serta berjuang melawan pasukan Sekutu yang mendompleng NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk kembali menjajah Indonesia.
Perjuangan santri tersebut mencapai puncaknya dalam pertempuran besar di Surabaya, sebagai bentuk nyata pengorbanan kaum santri demi mempertahankan kedaulatan bangsa yang baru saja diproklamasikan. Sebagai penutup tausiyah, KH. Lukman Nursalim menceritakan sejarah awal lahirnya Resolusi Jihad. Beliau menjelaskan bahwa setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi NICA memicu keresahan di kalangan ulama dan santri, karena berpotensi mengembalikan cengkeraman penjajahan atas Indonesia. Menyikapi situasi tersebut,KH Hasyim Asy’ari mulai mengumpulkan dan bermusyawarah dengan para kiai se-Jawa dan Madura sejak bulan September 1945, hingga akhirnya musyawarah tersebut melahirkan fatwa Resolusi Jihad di Surabaya pada 22 Oktober 1945.
Fatwa inilah yang mengobarkan semangat rakyat, khususnya kaum santri, untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Di akhir tausiyahnya, KH. Lukman Nursalim mengajak seluruh jamaah untuk meneladani semangat perjuangan para ulama dan santri terdahulu, serta senantiasa menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan menjalankan adab, akhlak, dan cinta tanah air sebagai bagian dari keimanan.
Kontak Media / Informasi Lebih Lanjut: Panitia Tasyakuran Kemerdekaan RI ke-81 Masjid Baitussalam, RT 03/RW 05, Kelurahan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat













