Depok— Menjelang dan dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, suasana khidmat dan sarat nilai-nilai keislaman menyelimuti Kompleks Pondok Pesantren Nidaul Haq, Cilodong, Kota Depok. Lebih dari 100 jamaah yang terdiri dari para santri, tokoh masyarakat, serta warga sekitar tampak antusias memadati area pengajian yang diselenggarakan tadi malam. Kegiatan spiritual ini menjadi momen penting bagi masyarakat untuk kembali mendekatkan diri kepada ajaran Rasulullah SAW sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga dalam suasana yang sejuk dan penuh keberkahan. Acara tausiyah keagamaan tersebut dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nidaul Haq, KH. Lukman Nursalim, yang menyampaikan berbagai pesan mendalam mengenai hakikat kehidupan manusia di dunia.
Dalam pembukaannya, beliau menekankan bahwa momentum peringatan Maulid Nabi hendaknya dijadikan sarana untuk merenungi kembali seluruh perjalanan hidup, memperbaiki niat peribadatan, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT dengan meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Mengawali pemaparannya, KH. Lukman Nursalim mengupas secara mendalam tentang hakikat takdir, kekuatan doa, dan nilai waktu dalam pandangan Islam. Beliau menjelaskan bahwa segala perjalanan hidup, keselamatan, dan ketetapan seorang hamba pada dasarnya telah ditentukan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Namun demikian, takdir tersebut tidak dapat diubah kecuali dengan doa, di mana doa itu sendiri merupakan bagian integral dari takdir-Nya yang dianugerahkan kepada manusia sebagai sarana ikhtiar batiniah.
Lebih lanjut, KH. Lukman Nursalim mengibaratkan kehidupan dunia ini tak ubahnya sebagai tempat bercocok tanam tempat setiap manusia bertugas mengumpulkan bekal bermutu sebanyak-banyaknya demi kehidupan abadi di akhirat kelak. Beliau menegaskan bahwa berbagai kesulitan dan beratnya ujian hidup yang kerap dirasakan oleh manusia pada hakikatnya bersumber dari ketidakfahaman manusia itu sendiri dalam memaknai hakikat kehidupan yang telah diamanahkan oleh Allah SWT.
Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Ponpes Nidaul Haq ini juga mengingatkan para jamaah tentang pentingnya menjaga waktu dan nikmat kesehatan sebagai modal utama kehidupan. Beliau menekankan konsep Al-Waqtu Qadha, di mana waktu ibarat emas yang sangat berharga dan tidak akan pernah terulang kembali. Seluruh nikmat yang diterima— mulai dari umur, kesehatan, hingga harta benda—kelak akan dimintai pertanggungjawaban secara rinci di akhirat, bahkan tempat dan benda yang kita gunakan di dunia akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT, sementara kesehatan itu sendiri merupakan nikmat dasar yang memungkinkan manusia merasakan nikmat-nikmat lainnya.
Selanjutnya, KH. Lukman Nursalim menguraikan konsep “Rukun Hidup” yang wajib dipahami dan diterapkan oleh setiap Muslim dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dalam ibadah formal terdapat urutan tata cara atau rukun yang wajib dipenuhi agar amalan tersebut menjadi sah—seperti halnya 17 rukun dalam salat atau 5 rukun dalam Pondok Pesantren Nidaul Haq Cilodong Halaman 1 dari 2pernikahan—kehidupan sosial dan spiritual manusia pun memiliki panduan serta tata cara dasar yang harus dipenuhi agar manusia dapat berjalan selaras dengan garis yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Guna memperjelas pentingnya peran individu dalam kehidupan bermasyarakat dan bermusyawarah, KH. Lukman Nursalim mengutip penggolongan manusia ke dalam tiga tipe utama. Tipe pertama adalah Manusia Sempurna, yakni orang yang mau hadir dalam musyawarah serta aktif menyampaikan pendapat dan ide-ide produktif, meneladani Rasulullah SAW yang terbukti selalu mengedepankan musyawarah meskipun beliau sosok yang sangat cerdas. Tipe kedua adalah Manusia Setengah Sempurna, yaitu mereka yang bersedia hadir memenuhi undangan musyawarah namun tidak menyampaikan pendapat atau idenya sendiri. Sementara itu, tipe ketiga yang diwanti-wanti oleh beliau adalah Manusia Jahil atau golongan yang kurang baik, yakni pribadi yang jika diajak bermusyawarah tidak mau datang, tidak memiliki kontribusi pemikiran, enggan diatur, namun di belakang justru banyak mengeluh dan mengkritik. KH. Lukman Nursalim mengimbau seluruh jamaah yang hadir untuk senantiasa mengintrospeksi diri dan menjauhi sifat-sifat manusia tipe ketiga ini demi terciptanya tatanan masyarakat yang harmonis dan saling mendukung.
Sebagai penutup tausiyahnya dalam rangka menyambut Maulid Nabi ini, KH. Lukman Nursalim mengulas sejarah dan strategi dakwah Wali Songo yang sangat relevan untuk diteladani saat ini. Beliau memaparkan bahwa Islam berkembang pesat menjadi agama terbesar di Nusantara berkat metode dakwah Wali Songo yang penuh kearifan lokal, rasional, serta bijaksana. Para wali mampu menyelaraskan bahasa untuk menyatukan masyarakat yang dulunya terkotakkotak dalam sistem kasta tanpa merusak budaya setempat, melainkan menjadikannya sebagai media dakwah berkat kedalaman ilmu keagamaan yang mereka miliki.














Nembe ngerti nekan urip wae ana rukune
Jossss👍🏼🔥🔥